Breaking News

Sejarah Candi Kidal, Sudah Lupa?


KAB.MALANG - Antusias terhadap keberadaan situs bersejarah tak bisa dipungkiri menjadi cerminan seberapa penting peran sejarah di era zaman sekarang. Karena dengan adanya antusias tersebut, membuktikan bahwa keberadaan situs bersejarah masih ada tempat di hati masyarakat saat ini.


Contohnya, keberadaan Candi Kidal, yang ada di Desa Kidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Seberapa banyak orang yang tahu akan keberadaannya? Apalagi letak candi Kidal hampir tidak terlihat, tanpa papan nama yang jelas, dan diapit pemukiman warga.


Namun jika Anda berniat untuk datang kesini, bisa lewat Kecamatan Tumpang, atau melalui Tajinan. Saat melintas di jalan desa Kidal, harap pelan-pelan daripada terlewat. Soalnya papan nama Candi Kidal hanya dipasang di depan pagar dan menghadap jalan raya, bukan menghadap pengendara.

Sekilas Tentang Candi Kidal

Candi Kidal dipercaya sebagai tempat abu raja kedua Kerajaan Singosari, yakni Anusapati, yang gugur karena dibunuh Panji Tohjaya.


Sempat mengalami pemugaran pada tahun 1990. Secara arsitektur, Candi Kidal saat ini masih terlihat bagus serta terawat.

Imam, juru kunci Candi Kidal (2016) menyatakan bahwa penamaan Kidal juga karena letaknya yang nyéséh (tidak lurus), juga berada di sisih Selatan -dari pusat kerajaan saat itu-.

Candi Kidal, Tampilkan Khas Jawa Timur

Banyak ornamen yang terukir pada dinding candi dengan pola sama dengan batik Jawa Timuran. Sehingga hal itu mencitrakan bahwa Candi Kidal memang memiliki ciri khusus Jawa Timur.

Candi Kidal terbangun menggunakan batu andesit, dan memiliki geometris vertikal. Berbeda dengan Candi Singosari (Kecamatan Singosari), Candi Badut (Kecamatan Sukun), dan Candi Jago (Kecamatan Tumpang).

Petirtaan Ken Dedes Yang Sebenarnya?


Hal ini didapat dari penuturan Imam, saat dia menyatakan bahwa kemungkinan besar bahwa Candi Kidal tidak jauh dari tempat petirtaan Ken Dedes, ibunda Anusapati.

Imam meyakini hal tersebut, karena pada sebelah selatan candi pernah ditemukan arca-arca yang mengisyaratkan tempat mandi, seperti beberapa arca pancuran berbahan logam.

Dilema Candi Kidal


Candi Kidal sebagai tempat sejarah -terlepas sebagai tempat pemujaan- tentunya menjadi hal penting untuk dijaga peran serta keberadaannya. Hal tersebut tak lepas dari peran pemerintah maupun warga yang berada di sekitar lokasi candi.

Sayangnya, pengenalan Candi Kidal dengan upaya menarik perhatian para wisatawan terkendala dengan adanya aroma tak sedap bertahun-tahun yang dihasilkan kandang ayam sebelah candi. Apalagi saat datang musim hujan. [jul]


***

Pengumuman : 
Hadiri Acara Ruwatan di Candi Kidal, Kamis, 21 Juli 2016.

12 comments:

  1. Di cepogo Boyolali juga ada candi tapi tak terawat dan tak banyak orang yang tahu... ;(

    ReplyDelete
  2. Sayang sekali, kenapa harus terjadi seperti itu? Apakah memang situs bersejarah tak lagi penting?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agak sedih emang mas, kadang malah situs2 bersejarah yg ga terurus malah jadi lahan jarahan.

      Delete
    2. Sangat sering terjadi hal seperti itu mas Omali. Di tempat saya, kawasan Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang misalnya,...

      Beberapa situs peninggalan menjadi satu paket dengan tanah yang dijual. Hingga tidak tahu nasib selanjutnya mengenai situs tersebut.

      Walaupun sudah banyak aturan mengenai benda purbakala yang bersejarah, namun dari supremasi hukumnya hingga saat ini belum menjadi prioritas, atau bisa pula bahwa wawasan warga mengenai aturan itu juga kurang tersosialisasi, atau memang pada dasarnya masyarakat kurang wawasan tentang pentingnya situs purbakala.

      Delete
  3. Sayang banget ya. Padahal kalau mau dikelola dengan baik, pasti akan jadi tempat wisata yang menarik..
    Emangnya kandang ayam di sebelah candi itu punya siapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut penuturan pak Imam, juru kunci Candi Kidal, kandang ayam besar disamping candi adalah milik warga pendatang.

      Delete
  4. bisa jadi setenar candi2 lain sebenarnya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sebenarnya gak jauh dari kebijakan pemerintah daerah setempat mbak, hingga menjadi tenar atau tidak.

      Delete
  5. pemdanya yg gak begitu respek dgn peninggalan leluhur ditambah masyarakat yg g peduli . mgkin ngurus candi gak ad uangnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah demi uang, hingga sejarah terbenam. Sayang sekali :(

      Delete
  6. Uhui, pengen sebenarnya keliling lihat candi. Tapi lebih enakan e pantai liat ombak haha...penuturannya khas berita ya, =D

    ReplyDelete

Silahkan tinggalkan kesan Anda setelah membaca www.malangartchannel.com