Breaking News

Aktivis Parpol Tanggapi Kenaikan Dolar


Batu, Kota Batu - Melemahnya Rupiah hingga menembus angka diatas 14 ribu rupiah per US Dolar (27/8) berbuntut panjang, ditandai dengan naiknya harga kedelai impor. Padahal, bahan baku berupa kedelai impor merupakan bahan utama bagi para pengusaha tahu.

Sutrisno, yang mengaku bergelut di perusahaan pembuatan tahu di Kelurahan Temas, Kecamatan Batu, Kota Batu, mulai merasakan dampak fluktuasi menguatnya dolar terhadap rupiah sejak 2 minggu terakhir.


Kenaikan harga kedelai dalam dua minggu terakhir terpantau mencapai Rp 1.000,- per hari yang awalnya hanya berkisar 6.100 - 6.500 kini menjadi 7.300 - 7.500 per kilogramnya.

Ia terpaksa menyiasati situasi tersebut dengan mengurasi spek dari tahu yang ia produksi. Awalnya tahu yang ia produksi memiliki ukuran 14cm x 14cm x 4cm, ia ubah menjadi 12cm x 12cm x 3,5cm. Kadangkala ia juga menyiasatinya dengan mengurangi kepadatan tahu.

"Ya satu-satunya saya mengurangi porsinya seperti ukuran tahu serta kekenyalannya," tegasnya.

Ketergantungan pengusaha tahu terhadap kedelai impor diakuinya memang suatu hal yang tidak bisa dihindari. Pasalnya, ketersedian kedelai lokal sangat terbatas. Padahal ia menyatakan bahwa kualitas kedelai lokal lebih bagus daripada kedelah impor.

Terlebih, naiknya harga kedelai yang secara langsung berdampak terhadap membengkaknya biaya operasional tidak diimbangi dengan hasil produksi yang masuk dalam usahanya tersebut.

"Gak mungkin saat harga dolar naik, tahu kita naik, malah tidak laku nanti," pungkasnya.

Perlu diketahui, Sutrisno merupakan aktivis partai Gerindra yang sempat eksis beberapa tahun lalu. (rad)

No comments

Silahkan tinggalkan kesan Anda setelah membaca www.malangartchannel.com